Langsung ke konten utama

SEJARAH TIMBULNYA ILMU KALAM

ILMU KALAM
SEJARAH TIMBULNYA ILMU KALAM




DOSEN PENGAMPU:
M. SURURI, MHI
                                                             OLEH:                                                            
KELOMPOK 1 KELAS B5.A
1.      MUHAMMAD SETIAWAN                        (1516140034)

SYARIAH EKONOMI ISLAM
PERBANKAN SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
2015



KATA PENGANTAR


Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
            Puji dan syukur penulis ucapkanatas kehadirat Allah SWT, karena atas karunia, taufiq dan hidayah-Nya lah, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “SEJARAH TIMBULNYA ILMU KALAM” ini.
Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas pertama penulis dalam mata kuliah Ilmu Kalam, yang alhamdulillah dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.
            Terimakasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat tidak hanya penulis, namun juga untuk pihak-pihak yang berkenan meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini.
            Mengingat keterbatasan penulis sebagai manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa, penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Agar kedepannya penulis bias lebih baik lagi.
            Salah dan khilaf penulis mohon maaf. Kepada Allah, penulis mohon ampun.
Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bengkulu,  10 November 2015

Penulis
DAFTAR ISI                                      
Halaman Judul................................................................................................... i
Kata Pengantar................................................................................................. ii
Daftar Isi........................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1-2
1.2 Rumusan Masalah......................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulis............................................................................................... 2
BAB III ISI
2.1 Pengertian ilmu kalam................................................................................ 3-4
2.2 Sejarah Munculnya Ilmu Kalam Mulai Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin,  Bani Umayyah, Bani Abbas, dan Sampai Sekarang...................................................................................... 4-7
2.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi dalam Pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Kalam          8-10
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
            Mengkaji ilmu kalam pada dasarnya merupakan upaya memahami kerangka berpikir dan proses pengambilan keputusan para ulama aliran teologi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kalam. Pada dasarnya, potensi yang dimiliki setiap manusia, baik berupa potensi biologis maupun potensi psikologis yang secara natural adalah distingtif.oleh sebab itu, perbedaan kesimpulan antara satu pemikiran dan pemikiran lainnya dalam mengkaji suatu objek tertentu merupakan suatu hal yang bersifat natural pula.
            Dalam kaitan ini, waliyullah Ad-Dahlawi pernah mengatakan bahwa para sahabat dan tabi’in biasa berbeda pendapat dalam mengkaji suatu masalah tertentu. Beberapa indikasi yang menjadi pemicu perbedaan pendapat diantara mereka adalah terdapat beberapa sahabat yang mendengar ketentuan hukum yang diputuskan oleh Nabi SAW, semetara yang lainnya tidak. Sahabat yang tidak mendengar keputusan itu lalu mereka berijtihad. Dari sini kemudian terjadi perbedaan pendapat dalam memutuskan suatu ketentuan hukum.[1]
            Mengenai sebab-sebab pemicu perbedaan pendapat, Ad-Dahlawi tampaknya lebih menekankan aspek subjek pembuatan keputusan sebagai pemicu perbedaan pendapat. Penekanan serupa pun pernah dikatakan imam Munawir. Ia mengatakan bahwa perbedaan pendapat didalam islam lebih dilatarbelakangi adanya beberapa hal yang menyangkut kapasitas dan kredinilitas seorang sebagai figur pembuatan keputusan. Lain lagi yang dikatakan Umar Sulaiman Asy-Syaqar, ia lebih menekankan aspek objek keputusan sebagai pemicu terjadinya perbedaan pendapat. Menurutnya, ada tiga persoalan yang menjadi objek
            Bertolak dari ketiga pandangan diatas, perbedaan pendapat didalam masalah objek teologi sebenarnya berkaitan erat dengan cara berpikir aliran-aliran ilmu kalam dalam menguraikan objek pengkajian. Perbedaan metode berpikir secara garis besar dapat dikategorikan menjadi dua macam, yaitu kerangka berpikir rasional dan berpikir metode tradisional.[2]

1.2. Rumusan masalah
             Berdasarkan latar belakang diatas, banyak persoalan atau permasalahan yang menarik yang perlu dikaji dari pembahasan tentang “Ilmu Kalam”. Adapun permasalahannya sebagai berikut :
      1. Apa yang dimaksud dengan ilmu kalam?
      2.Apa kegunaan dan peranan ilmu kalam dalam konteks agama dan kehidupan di dunia ini?
      3.Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga timbulnya ilmu kalam baik faktor internal maupun eksternal?
      4. Bagaimana dampak untuk umat islam dengan adanya ilmu kalam baik dari segi positif maupun dari segi negatif?

1.3 .Tujuan penulisan
            Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah, secara umum tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah supaya kita semua bisa mengetahui bagaimana pentingnya untuk mempelajari ilmu kalam karena kita tahu bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang mempelajari tentang pokok-pokok agama dan juga tentang keesaan Allah. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk Allah SWT setidaknya harus sedikit mengetahui tentang ilmu kalam, supaya kita bisamenjalankan hidup ini sesuai dengan perintah dan larangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian ilmu kalam
           
Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain : ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, fiqh al-akbar dan teologi islam.[3]
  1. Disebut ilmu ushuluddin karena ilmu kalam juga  membahas pokok-pokok agama. 
  2. .Disebut ilmu tauhid karena ilmu kalam juga membahas tentang keesaan Allah SWT. Ilmu tauhid sendiri sebenarnya membahas keesaan Allah SWT, dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Secara objektif, ilmu kalam sama dengan ilmu tauhid, tetapi argumentasi ilmu kalam lebih dikonsentrasikan pada penguasaan logika. Oleh sebab itu sebagian teolog membedakan antara ilmu kalam dengan ilmu tauhid.
  3. Abu hanifah menyebut nama ilmu ini dengan fiqh al-akbar. Menurut persepsinya, hukum islam yang dikenal dengan istilah fiqh terbagi atas dua bagian. Pertama, fiqh al-akbar, yang membahas keyakinan atau pokok-pokok agama atau ilmu tauhid. Kedua fiqha al-asghar, membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, bukan pokok-pokok agama tetapi hanya cabang saja.
  4. Teologi islam merupakan istilah lain dari ilmu kalam yang diambil dari bahasa inggris. William L.Reese mendefinisikan  “discourse of reason concerning God,”(diskursus atau pemikiran tentang tuhan). Dengan mengutip kata-kata William Okham, Reese lebih jauh mengatakan “Theology to be a disciplineresting on revealed truth and independent of philosophy and science” ( teologi disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independensi filsafat dan ilmu pengetahuan ). Sementara itu, Gove menyatakan bahwa teologi adalah penjelasan tentang keimanan, perbuatan, dan pengalaman agama secara rasional.

Jadi, apabila memperhatikan definisi ilmu kalam diatas, kita bisa mendefinisikan pengertian ilmu kalam itu adalah ilmu yang membahas atau ilmu yang mengandung tentang berbagai masalah-masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat. Dan secara teoristis aliran salaf tidak dapat dimasukkan kedalam aliran ilmu kalam, karena aliran ini dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak menggunakan argumentasi filsafat atau logika. Akan tetapi aliran ini cukup dimasukkan kedalam aliran ilmu tauhid, ilmu ushuluddin atau fiqh al-akbar.

2.2  Sejarah Munculnya Ilmu Kalam Mulai Masa Rasulullah, Khulafaurrasyidin,  Bani Umayyah, Bani Abbas, dan Sampai sekarang.
Pada masa Nabi SAW, dan para Khulafaurrasyidin, umat islam bersatu, mereka satu akidah, satu syariah dan satu akhlaqul karimah, kalau mereka ada perselisihan pendapat dapat diatasi dengan wahyu dan tidak ada perselisihan diantara mereka. Awal mula adanya perselisihan di picu oleh Abdullah bin Saba’ (seorang yahudi) pada pemerintahan khalifah Utsman bin Affan dan berlanjut pada masa khalifah Ali. Dan awal mula adanya gejala timbulnya aliran-aliran adalah sejak kekhalifahan Utsman bin Affan (khalifah ke-3 setelah wafatnya Rasulullah). Padamasa itu di latar belakangi oleh kepentingan kelompok, yang mengarah terjadinya perselisihan sampai terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Kemudian digantikan oleh Ali bin Abi Thalib, padamasa itu perpecahan di tubuh umat islam terus berlanjut.[4]
Umat islam pada masa itu ada yang pro terhadap kekhalifahan Ali bin Abi Thalib yang menamakan dirinya kelompok syi’ah, namun kelompok ini belum berani menampakkan diri. Pada 6 tahun pertama masa pemerintahan ali semuanya berjalan lancar, namun pada 6 tahun kedua mulai muncul konflik-konflik, antara lain perang Jamal. Yaitu perang antara aisyah (istri nabi Muhammad) dengan Ali, hal ini terjadi karena Aisyah menuntut Ali untuk mengungkap kematian Ustman bin Affan.
Saat kekhalifaan Ali orang-orang di pemerintahan tidak suka dengan Ali terutama keluarga Ustman karena Ali berniat mengganti semua jabatan yang ada, salah satunya Muawiyah (sepupu Ustman bin Affan) yang menolak keras dirinya dicopot sebagai gubernur. Kemudian terjadilah perselisihan antara Muawiyah dengan Ali yang disebut perang Siffin. Di awal peperangan kelompok Muawiyah telah banyak gugur, hal ini membuat Muawiyah berfikir untuk bagaimana caranya agar dia bisa menang. Muawiyah menawarkan unuk berdamai atas nama Al-quran, kemudian terjadilah Tahkim dengan mengirimkan juru damai masing-masing. Ali mengirim Abu musa, sedangkan Muawiyah mengirim Amr bin as. Tahkim dimenangkan oleh Muawiyah, karena Tahkim ini sebenarnya adalah siasat Muawiyah agar bisa menang setelah perang, maka mereka menghalalkan segala cara agar bisa menaklukan kelompok Ali.
Sebenarnya banyak pendukung Ali yang tidak setuju dengan keputusan Ali menrima Tahkim, kemudian orang-orang ini memisahkan diri dan disebut Khawarij. Kelompok ini menganggap semua orang yang terlibat Tahkim adalah orang kafir dan darahnya halal untuk dibunuh. Kemudian muncul kelompok yang menentang Khawarij yang disebut Murjiah, mereka mengatakan orang-orang kafir tidak usah dibunuh karena mereka masih bisa bertaubat. Kemudian muncul lagi kelompok penengah yang disebut Mutazilah, mereka mengatakan ingin ada tempat diantar baik dan buruk. Bermula dari itulah akhirnya timbul berbagai aliran di kalangan umat islam, masing-masing kelompok juga terpecah belah, akhirnya jumlah aliran di kalangan umat islam menjadi banyak.



Pada zaman Bani Umayyah ( 661-750 M ) masalah aqidah menjadi perdebatan yang hangat di kalangan umat islam. Di zaman inilah lahir berbagai aliran teologi seperti Murji’ah, Qadariah, Jabariah dan Mu’tazilah.Kaum Muslimin tidak bisa mematahkan argumentasi filosofis orang lain tanpa mereka menggunakan senjata filsafat dan rasional pula. Untuk itu bangkitlah Mu’tazilah mempertahankan ketauhidan dengan argumentasi-argumentasi filosofis tersebut.Namun sikap Mu’tazilah yang terlalu mengagungkan akal dan melahirkan berbagai pendapat controversial menyebabkan kaum tradisional tidak menyukainya.Akhirnya lahir aliran Ahlussunnah Waljama’ah dengan Tokoh besarnya Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Pada zaman pemerintahan Bani Umaiyah, hampir-hampir keseluruhan umat Islam di dalam keimanan yang bersih dari sebarang pertikaian dan perdebatan. Dan apabila kaum muslimin selesai melakukan pembukaan negeri dan kedudukannya telahpun mantap, mereka beralih tumpuan kepada pembahasan sehingga menyebabkan berlaku perselisihan pendapat di kalanganmereka.
Pada zaman Abbasiyah, telah banyak berlaku pembahasan di dalam perkara-perkara akidah termasuk perkara-perkara yang tidak wujud pada zaman Nabi s.a.w. atau zaman para sahabatnya. Berlaku pembahasan tersebut dengan memberi penumpuan agar ia menjadi satu ilmu baru yang diberi nama Ilmu Kalam.
Setelah kaum muslimin selesai membuka negeri-negeri, lalu ramai dari kalangan penganut agama lain yang memeluk Islam. Mereka ini menzahirkan pemikiran-pemikiran baru yang diambil dari agama lama mereka tetapi diberi rupabentuk Islam. Iraq, khususnya di Basrah merupakan tempat segala agama dan aliran. Maka terjadilah perselisihan apabila ada satu golongan yang menafikan kemahuan (iradah) manusia. Kelompok ini diketuai oleh Jahm bin Safwan.[5][8] Dan antara pengikutnya ialah para pengikut aliran Jabbariyah yang diketuai oleh Ma'bad al-Juhni. Aliran ini lahir ditengah-tengah kecelaruan pemikiran dan asas yang dibentuk oleh setiap kelompok untuk diri mereka. Kemudian bangkitlah sekelompok orang yang ikhlas memberi penjelasan mengenai akidah-akidah kaum muslimin berdasarkan jalan yang ditempoh oleh al-Quran. Antara yang masyhur di kalangan mereka ialah Hasan al-Basri. Dan sebahagian dari kesan perselisihan antara Hasan al-Basri dengan muridnya Washil bin Atho' ialah lahirnya satu kelompok baru yang dikenali dengan Muaktazilah. Perselisihan tersebut ialah mengenai hukum orang beriman yang mengerjakan dosa besar, kemudian mati sebelum sempat bertaubat.
Pada akhir kurun ketiga dan awal kurun keempat, lahirlah imam Abu Mansur al-Maturidi yang berusaha menolak golongan yang berakidah batil. Mereka membentuk aliran al-Maturidiah.  Kemudian muncul pula Abul Hasan al-Asy'ari yang telah mengumumkan keluar dari kelompok Mu'tazilah dan menjelaskan asas-asas pegangan barunya yang bersesuaian dengan para ulamak dari kalangan fuqahak dan ahli hadis. Dia dan pengikutnya dikenal sebagai aliran Asya'irah. Dan dari dua kelompok ini, terbentuklah kelompok Ahlus Sunnah wal Jamaah.

2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi dalam Pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Kalam.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu kalam terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. Faktor internal :
a). Al-Quran di dalam seruannya kepada tauhid membentangkan aliran-aliran penting dan agama-agama yang bertebaran pada zaman Nabi s.a.w., lalu al-Quran menolak perkataan-perkataan mereka. Secara tabi'I, para ulamak telah mengikut cara al-Quran di dalam menolak mereka yang bertentangan, di mana apabila penentang memperbaharui cara, maka kaum muslimin juga memperbaharui cara menolaknya.
.b). Perselisihan di dalam masalah politik menjadi sebab di dalam perselisihan mereka mengenai soal-soal keagamaan. Jadilah parti-parti politik tersebut sebagai satu aliran keagamaan yang mempunyai pandangannya sendiri. Parti (kelompok) Imam Ali r.a. membentuk golongan Syiah, dan manakala mereka yang tidak bersetuju dengan Tahkim dari kalangan Syiah telam membentuk kelompok Khawarij. Dan mereka yang membenci perselisihan yang berlaku di kalangan umat Islam telah membentuk golongan Murji'ah.:
c). Adanya pemahaman dalam islam yang berbeda
Perbedaan ini terdapat dalam hal pemahaman ayat Al-Qur’an, sehingga berbeda dalam menafsirkan pula. Mufasir satu menemukan penafsiranya berdasarkan hadist yang shahih, sementara mufasir yang lain penafsiranya belum menemukan hadist yang shahih. Bahkan ada yang mengeluarkan pendapatnya sendiri atau hanya mengandalkan rasional belaka tanpa merujuk kepada hadist.
d). Adanya pemahaman ayat Al-Qur’an yang berbeda Para pemimpin aliran pada waktu itu dalam mengambil dalil Al-Qur’an beristinbat menurut pemahaman masing-masing
e). Adanya penyerapan tentang hadis yang berbeda
Penyerapan hadist berbeda, ketika para sahabat menerima berita dari para perawinya dari aspek “matan” ada yang disebut hadist riwayah (asli dari Rasul) dan diroyah (redaksinya disusun oleh para sahabat), ada pula yang di pengaruhi oleh hadist (isra’iliyah), yaitu: hadist yang disusun oleh orang-orang yahudi dalam rangka mengacaukan islam.
f). Adanya kepentingan kelompok atau golongan Kepentingan kelompok pada umumnya mendominasi sebab timbulnya suatu aliran, sangat jelas, dimana syiah sangat berlebihan dalam mencintai dan memuji Ali bin Abi Thalib, sedangkan khawarij sebagai kelompok yang sebaliknya.
g). Mengedepankan akal
Dalam hal ini, akal di gunakan setiap keterkaitan dengan kalam sehingga terkesan berlebihan dalam penggunaan akal, seperti aliran Mu’tazilah.
h).Adanya kepentingan politik
Kepentingan ini bermula ketika ada kekacauan politik pada zaman Ustman bin Affan yang menyebabkan wafatnya beliau, kepentingan ini bertujuan sebagai sumber kekuasaan untuk menata kehidupan.
i). Adanya beda dalam kebudayaan
Orang islam masih mewarisi yang di lakukan oleh bangsa quraish di masa jahiliyah. Seperti menghalalkan kawin kontrak yang hal itu sebenarnya sudah di larang sejak zaman Rasulullah. Kemudian muncul lagi pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib oleh aliran Syi’ah.

2. Faktor eksternal
a).
Ramai orang yang memeluk agama Islam selepas pembukaan beberapa negeri adalah terdiri dari penganut agama lain seperti yahudi, Nasrani, Ateis dan lain-lain. Kadangkala mereka menzahirkan pemikiran-pemikiran agama lama mereka bersalutkan pakaian agama mereka yang baru (Islam).
b). Kelompok-kelompok Islam yang pertama, khususnya Muktazilah, perkara utama yang mereka tekankan ialah mempertahankan Islam dan menolak hujah mereka yang menentangnya. Negeri-negeri Islam terdedah dengan semua pemikiran-pemikiran ini dan setiap kelompok berusaha untuk membenarkan pendapatnya dan menyalahkan pendapat kelompok lain. Orang-orang Yahudi dan Nasrani telah melengkapkan diri mereka dengan senjata ilmu Falsafah, lalu Muktazilah telah mempelajarinya agar mereka dapat mempertahankan Islam dengan senjata yang telah digunakan oleh pihak yang menyerang.
c). Ahli-ahli Kalam memerlukan falsafah dan mantiq (ilmu logik), hingga memaksa mereka untuk mempelajarinya supaya dapat menolak kebatilan-kebatilan (keraguan-keraguan) yang ada di dalam ilmu berkenaan.
d). Akibat adanya pengaruh dari luar islam.
Pengaruh ini terjadi ketika munculnya aliran syi’ah yang muncul karena propaganda seseorang yahudi yang mengaku islam, yaitu Abdullah bin Saba.
e). Akibat terjemahan filsafat yunani
Buku-buku karya filosofi yunani di samping banyak membawa manfaat juga ada sisi negatifnya bila di tangan kalangan yang tidak punya pondasi yang kuat tentang akidah dan syariat islam. Sehingga terdapat keinginan oleh umat islam untuk membantah alasan-alasan mereka yang memusuhi islam.[6]



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain: ilmu ushuluddin, ilmu tauhid, fiqh al-akbar dan teologi islam. Jadi apabila memperhatikan definisi ilmu kalam diatas kita bisa mendefinisikan pengertian ilmu kalam itu adalah membahas atau ilmu yang mengandung tentang berbagi masalah-masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat dan secara teorostis aliran salaf tidak dapat dimaksudkan kedalam aliran ilmu kalam, karena aliran ini dalam membahas masalah-masalah ketuhanan tidak menggunakan argumentasi filsafat atau logika, akan tetapi, aliran ini cukup dimasukkan kedalam aliran ilmu tauhid, ilmu usuluddin, atau ilmu fiqh al-akbar.
Sejarah munculnya ilmu kalam mulai pada masa rasulullah, khulafaur rasyiddin, bani umayyah, bani akbar, bani abbas dan sampai sekarang

















DAFTAR PUSTAKA
Waliyullah Ad-dahlawi, Al-Insaf fi bayyan asbab al-ikhtilaf, Dar An-Nafais, Beirut, 1978
Yunan Yusuf, Corak pemikiran kalam tafsir Al-azhar, Pustaka pajimas, Jakarta
Mustafa Abd Ar-raziq, Tamhid Al-falsafah Al-islamiyah, Lajnah wa At-tha’lif wa At-tarjamah wa An-nasyr, 1959
Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran sejarah analisa perbandingan, UI- Press, Jakarta
W. Montgomery watt, Pemikiran teologi dan filsafati islam. Terj. Umar Basalim, penerbit P3M, Jakarta, 1987
Philip bob Cock Gove (ed), webster’s third new internasional dictionary of the English language uni bridged, G&C Mervian company publishers, USA, 1966
Endang Saifuddin Ansari, Ilmu filsafat dan agama, PT. Bina ilmu Surabaya, 1990
Raziq, op.cit
Ibid





[1] Lihat waliyullah Ad-dahlawi, Al-Insaf fi bayyan asbab al-ikhtilaf, Dar An-Nafais, Beirut, 1978, hlm:15-30
[2]. Yunan Yusuf, Corak pemikiran kalam tafsir Al-azhar, Pustaka pajimas, Jakarta, hlm : 16-17
[3]. Lihat Mustafa Abd Ar-raziq, Tamhid Al-falsafah Al-islamiyah, Lajnah wa At-tha’lif wa At-tarjamah wa An-nasyr, 1959, hlm : 265
[4] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran sejarah analisa perbandingan, UI- Press, Jakarta, hlm : 6
[5] W. Montgomery watt, Pemikiran teologi dan filsafati islam. Terj. Umar Basalim, penerbit P3M, Jakarta, 1987, hlm : 10
[6] Lihat di situs internet, www.google.com : kajian ilmukalam dan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ilmu kalam.

Komentar

Posting Komentar